IDENTIFIKASI FITOKIMIA Spirulina platensis SEBAGAI PENURUN HIPERGLIKEMIA PADA DIABETES MELITUS TIPE 2
Penulis: Ikmal DD 38
1. Spirulina platensis
Mikroalga banyak digunakan di bidang industri tergantung jenis dan bentuk dari mikroalga tersebut. Salah satu jenis mikroalga yang sudah digunakan dalam bidang industri terutama di bidang bahan pangan yaitu jenis mikroalga Spirulina platensis mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi yaitu protein, dan nutrisi lainnya seperti lemak, karbohidrat, antioksidan, dan vitamin. Selain itu, Spirulina platensis termasuk mikroalga yang sudah diidentifikasi oleh para ilmuwan, spesies ini hidup sebagai produsen, menghasilkan fotosintesis, termasuk golongan alga hijau-biru berfilamen (Cyanobacteria atau Cyanophyceae), memiliki klorofil, dan pertumbuhan yang optimal pada Spirulina platensis yaitu berada di kisaran pH 8,5-11, dengan salinitas 15-20 ppt (Armelia et. al. 2023). Menurut Setiawan et al. (2014), kualitas Spirulina platensis menghasilkan kandungan gizi yang cukup baik, oleh karena itu perlu penelitian lebih lanjut proses dan manfaat Spirulina platensis sebagai bahan pangan fungsional (Setiawan et. al. 2014).
Spirulina platensis merupakan mikroalga biru-hijau yang termasuk dalam kelompok Cyanobacteria dan dikenal luas karena kandungan nutrisinya yang tinggi serta manfaat kesehatannya. Spirulina termasuk dalam klasifikasi domain Bacteria, filum Cyanobacteria, kelas Cyanophyceae, ordo Oscillatoriales, dan famili Phormidiaceae. Morfologinya berbentuk filamen spiral yang tersusun dari sel-sel silindris kecil dan tidak memiliki inti sejati, sesuai karakteristik prokariotik. Warna hijau kebiruan pada Spirulina berasal dari kandungan pigmen fikosianin dan klorofil-a, yang memungkinkan proses fotosintesis (Lupatini et. al., 2017). Spirulina platensis memiliki banyak manfaat dan kegunaan, terutama dalam bidang pangan dan kesehatan. Mikroalga ini kaya akan protein (sekitar 60–70% dari berat kering), asam amino esensial, vitamin (terutama B12), mineral, serta antioksidan. Karena komposisi nutrisinya, Spirulina sering digunakan sebagai suplemen makanan untuk meningkatkan sistem imun, menurunkan kadar kolesterol, membantu mengontrol gula darah, dan melawan radikal bebas. Selain itu, Spirulina juga diaplikasikan dalam industri kosmetik dan farmasi karena sifat antiinflamasi dan antimikroba yang dimilikinya. Tidak hanya untuk manusia, Spirulina juga digunakan sebagai bahan pakan dalam akuakultur dan peternakan karena meningkatkan pertumbuhan dan kekebalan hewan ternak (Wu et. al., 2016).
2. Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes Melitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah penyakit gangguan metabolik kronik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sensitivitas insulin dan insufisiensi produksi insulin oleh pankreas (Melytania et al, 2023). Hiperglikemia yang berat dapat memicu timbulnya berbagai gejala seperti sering buang air kecil (poliuria), rasa haus berlebih (polidipsia), rasa lapar berlebih (polifagia), penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kelelahan, penurunan performa tubuh, gangguan penglihatan, serta kerentanan terhadap infeksi, termasuk kemungkinan mengalami ketoasidosis atau non-ketoasidosis. Bila kondisi hiperglikemia ini berlangsung dalam jangka panjang, dapat terjadi kerusakan pada fungsi insulin dan memicu gangguan permanen serta disfungsi berbagai jaringan dan organ tubuh. Diabetes melitus sendiri dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, antara lain kadar asam urat tinggi, kualitas dan kuantitas tidur yang buruk, kebiasaan merokok (baik aktif maupun pasif), depresi, penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan lemak darah (dislipidemia), tekanan darah tinggi (hipertensi), usia lanjut, faktor etnis, riwayat keluarga, kurang aktivitas fisik, dan obesitas. Ketidakseimbangan kalori yang disebabkan oleh pola makan yang tidak sehat, aktivitas fisik yang menurun, dan gaya hidup yang minim gerak akan mendorong terjadinya penumpukan lemak (adipositas). Akumulasi lemak ini memicu pembentukan ulang jaringan adiposa yang berujung pada obesitas, dan kondisi tersebut sangat berkontribusi dalam meningkatkan risiko gangguan kardiometabolik, khususnya diabetes melitus tipe 2 (Widiasari et al, 2021).
Pengendalian glukosa pada penderita diabetes melitus tipe 2 dapat dipantau melalui pemeriksaan kadar gula darah sewaktu (GDS). Pemeriksaan ini dilakukan tanpa persiapan khusus, seperti puasa, sehingga bisa dilakukan kapan saja. Walaupun tingkat akurasinya kurang tinggi karena dapat terpengaruh oleh asupan makanan dan aktivitas fisik beberapa jam sebelumnya, pemeriksaan GDS tetap banyak digunakan karena prosesnya mudah, cepat, dan biayanya relatif terjangkau (Melytania et al, 2023).
3. Peran Senyawa Fitokimia Dalam Mengontrol Hiperglikemia
Spirulina platensis mengandung senyawa fitokimia yang berperan dalam mengontrol hiperglikemia, seperti alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Selain itu, Spirulina juga memiliki senyawa bioaktif lain seperti asam fenolat, asam linoleat, dan xantofil yang termasuk dalam kelompok fitopigmen (Alrasheedi et al, 2024). Senyawa-senyawa ini memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang mendukung aktivitas antidiabetes. Kehadiran mineral seperti selenium, kromium, dan seng turut berkontribusi dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan kadar glukosa darah. Oleh karena itu, kandungan fitokimia pada Spirulina menjadikannya agen alami potensial untuk pengendalian diabetes (He et al., 2022).
Referensi
Aemelia, A., Djarot, I.N., Paminto, A.K., Nurfaiz, I. & Handayani, T., (2023). Analisis Limbah Media Zarrouk Modifikasi yang Digunakan untuk Budidaya Spirulina platensis dan Analisis Kualitas Biomassanya sebagai Bahan Pangan Fungsional: Analysis of Modified Zarrouk Waste Media Used for Spirulina platensis Cultivation and Analysis of its Biomass Quality as a Functional Foodstuff. Jurnal Teknologi Lingkungan, 24(2), 315-322.
Alrasheedi, A. A., Basnawi, A. I., & Althaiban, M. A. (2024). Effects of Spirulina platensis microalgae on renal function and antioxidant defence in rats with streptozotocin-induced diabetes. Journal of Functional Foods, 122, 106485.
He, X., Wang, C. E., Zhu, Y., Jiang, X., Qiu, Y., Yin, F., … & Huang, Y. (2022). Spirulina compounds show hypoglycemic activity and intestinal flora regulation in type 2 diabetes mellitus mice. Algal Research, 66, 102791.
Lupatini, A. L., Colla, L. M., Canan, C., & Colla, E. (2017). Potential application of microalga Spirulina platensis as a protein source. Journal of the Science of Food and Agriculture, 97(3), 724-732.
Melytania, Setyowati, E. R., Andriana, A., & Pramana, K. D. (2023). Hubungan Kadar Glukosa Darah Sewaktu dengan Kadar Low Density Lipoprotein (LDL) Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Poliklinik RSUD Kota Mataram. Jurnal Kedokteran: Media Informasi Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 8(2), 114-124. https://doi.org/10.36679/kedokteran.v8i2.46
Setiawan, Y., Surachman, A., Asthary, P. B. & Saepulloh. (2014). Pemanfaatan emisi gas CO2 untuk budidaya Spirulina platensis dalam upaya penurunan gas rumah kaca (GRK). Jurnal Riset Industri, 8(2), 83-89.
Widiasari, K. R., Wijaya, I. M. K., & Suputra, P. A. (2021). Diabetes melitus tipe 2: Faktor risiko, diagnosis, dan tatalaksana. Ganesha Medicina Journal, 1(2), 114–120.
Wu, Q., Liu, L., Miron, A., Klímová, B., Wan, D., & Kucerová, Z. (2016). The antioxidant, immunomodulatory, and anti-inflammatory activities of Spirulina: an overview. Archives of Toxicology, 90(8), 1817-1840.