Kesehatan Mental Pria: Krisis Senyap yang Jarang Kita Sadar, Tapi Mengintai di Sekitar Kita
Penulis: Billy DD 39
Ketika mendengar kata ‘kesehatan mental’, sebagian besar orang membayangkan perempuan muda yang menangis atau seseorang yang sedang stres berat. Nyatanya, banyak penelitian menunjukkan bahwa pria justru berada dalam bahaya yang jauh lebih besar, bahkan para ilmuwan menyebutnya sebagai ‘krisis senyap”. Disebut “senyap” karena datanya sangat tinggi, tetapi pembahasannya jarang terdengar. Statistik menunjukkan bahwa sekitar 75% kasus bunuh diri terjadi pada pria, dan angka serupa muncul pada penyalahgunaan zat seperti alkohol dan narkoba . Di Amerika Serikat saja, lebih dari 49.000 orang meninggal karena bunuh diri pada 2022, atau satu orang setiap 11 menit . Namun di luar Amerika, krisis ini juga menghantam negara-negara lain termasuk Indonesia dan angkanya bahkan meningkat tajam.
Kita dapat melihatnya pada data nasional, kondisi Indonesia tidak kalah mengkhawatirkan. Menurut laporan Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri, angka bunuh diri di Indonesia meningkat hampir 60% dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2020, Polri mencatat lebih dari 640 kasus bunuh diri. Angka ini sedikit turun di 2021, yaitu menjadi 629 kasus. Namun setelah itu grafiknya melonjak tajam: 887 kasus di 2022, lalu 1.288 kasus pada 2023 tertinggi sepanjang catatan. Bahkan pada Januari–Oktober 2024 saja, angka bunuh diri sudah mencapai 1.023 kasus, menandakan tren yang terus meningkat setiap tahun. Jika angka ini terus naik, bukan tidak mungkin bahwa Indonesia tengah menghadapi salah satu lonjakan kasus bunuh diri terbesar dalam sejarahnya.
Tekanan budaya yang kuat menjadi salah satu akar dari “krisis senyap” ini. Sejak kecil, pria diajarkan untuk tidak menangis, tidak curhat, dan selalu terlihat kuat. Nilai-nilai seperti “Pria tidak bercerita” membuat banyak pria menyembunyikan gejala mental, bahkan meremehkannya meski kondisi sudah parah . Penelitian menemukan bahwa pria sering mengekspresikan depresi melalui amarah, impulsivitas, risiko ekstrem, atau penyalahgunaan zat, bukan dengan ekspresi sedih. Fenomena ini dikenal sebagai “male depressive syndrome”, yang sering membuat depresi pria tidak terdiagnosis.
Jika kita menelusuri lebih jauh, ada banyak faktor sosial yang membentuk kondisi ini. Salah satu yang paling dominan ialah tekanan pekerjaan dan ekonomi. Studi menunjukkan bahwa pengangguran berdampak lebih berat pada mental pria, karena pekerjaan adalah sumber identitas, peran, dan harga diri mereka. Kehilangan pekerjaan bagi sebagian pria bukan sekadar hilangnya gaji, tetapi hilangnya tempat dan peran di masyarakat.
Masalah keluarga, khususnya perceraian, juga memiliki dampak besar. Pria yang bercerai mengalami depresi hampir dua kali lebih sering dibandingkan wanita. Sekitar 80% ayah kehilangan hak asuh, sehingga kedekatan emosional dengan anak terputus dan memicu stres berat yang jarang dibicarakan. Jika ditambah luka masa kecil, pengalaman traumatis, dan tekanan sosial untuk tetap “kuat,” beban emosional pria sering menumpuk tanpa tempat untuk berbagi. Semua tekanan ini membuat pria cenderung memendam masalah. Mereka dua kali lebih sedikit mengakses layanan kesehatan mental dibanding wanita, dan sering merasa terapi terlalu “feminim” karena menuntut membuka perasaan . Tidak heran, 80% mahasiswa yang akhirnya bunuh diri tidak pernah sekali pun pergi konseling, meskipun mereka sebelumnya menunjukkan tanda-tanda risiko.
Namun penting diingat bahwa bunuh diri dapat dicegah. Banyak orang yang mencoba bunuh diri sebenarnya ingin hidup; mereka hanya tidak dapat melihat alternatif lain. Data CDC mencatat bahwa 13,2 juta orang berpikir untuk bunuh diri, dan 3,8 juta di antaranya membuat rencana, dalam satu tahun angka yang menunjukkan bahwa banyak orang sedang mencari pertolongan tetapi tidak tahu harus ke mana .
Maka dari itu, solusi harus dimulai dari lingkungan terdekat. Dukungan sosial, ruang aman untuk bercerita, dan sikap nonjudgmental dapat menjadi penyelamat hidup. Negara-negara seperti Kanada dan Australia sudah menjalankan kampanye khusus pria seperti Man-Up Against Suicide dan BeyondBlue untuk melawan stigma dan mendorong pria mencari bantuan tanpa malu . CDC pun menekankan strategi nasional seperti peningkatan akses layanan, pendidikan coping skills, kebijakan tempat kerja yang sehat, dan kampanye publik yang menghapus stigma kesehatan mental .
Kesehatan mental pria bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sosial yang membutuhkan gerakan bersama. Krisis ini hanya bisa dihentikan jika kita berani membuka ruang dialog, menghentikan budaya “diam,” dan menciptakan lingkungan yang melihat kerentanan bukan sebagai kelemahan, melainkan keberanian. Semakin cepat kita bertindak, semakin banyak nyawa yang dapat diselamatkan.Tindakan kolektif dan cepat kita hari ini adalah penentu bagi nyawa yang bisa diselamatkan di masa depan