Menurut “Cambridge Dictionary”, Burnout adalah keadaaan kelelahan ekstrim atau perasaan tidak mampu bekerja lagi, dikarenakan oleh bekerja terlalu keras. American Psychological Association mendefinisikan burnout sebagai kelelahan fisik, emosional, atau mental disertai dengan penurunan motivasi, penurunan kinerja, dan sikap negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Burnout disebabkan oleh kinerja tingkat tinggi hingga stres, ketegangan ekstrim yang berkepanjangan, beban kerja yang berlebihan, ketidak cocokan dengan pekerjaan, dan kurangnya penghargaan. Kata burnout pertama kali digunakan pada tahun 1975 oleh psikolog AS Herbert J. Freudenberger (1926–1999) untuk merujuk pada pekerja di klinik dengan beban kasus yang berat. 

Burnout dalam bidang akademik atau academic burnout didefinisikan sebagai perasaan lelah karena tuntutan studi, penghindaran terhadap tugas-tugas yang ada, dan perasaan tidak kompeten sebagai mahasiswa (Schaufeli, et al., 2002). Umumnya, burnout yang dialami para mahasiswa merupakan akumulasi dari beban tanggung jawab akademik, masalah pencarian jati diri, ketidakpastian akan masa depan, masalah pembentukan hubungan interpersonal, keraguan akan diri sendiri (Chao, 2012). Perubahan metode pembelajaran dari luring ke daring, kemudian kembali lagi ke pembelajaran luring juga sangat memungkinkan menyebabkan mahasiswa mengalami burnout. Aspek-aspek academic burnout ada tiga, yaitu:

  1. Kelelahan, mengacu pada perasaan ketegangan, terutama kelelahan kronis yang disebabkan oleh pekerjaan atau tugas-tugas yang berlebih.
  2. Sinisme, yaitu mahasawa bersikap dingin dan menjauh dari pekerjaan serta orang-orang sekitar mereka yang menurunkan keterlibatan mereka dalam lingkungan tersebut. 
  3. Menurunnya efisiensi diri, mengacu pada berkurangnya perasaan kompetensi, ketidakinginan untuk menjadi sukses, dan berkurangnya keinginan untuk berprestasi. 

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh LM Psikologi UGM yang berjudul “Tingkat Academic Burnout Mahasiswa Klaster Sosio-Humaniora UGM: Meningkatkan Kesadaran akan Urgensi Fenomena Academic Burnout”, didapatkan hasil aspek terbesar academic burnout adalah kelelahan, yaitu sebesar 73,12% (tinggi), selanjutnya sinisme 57,03% (sedang), terakhir adalah menurunnya efisiensi diri sebesar 49,43% (rendah).

Mahasiswa yang mengalami academic burnout cenderung mengalami perubahan perilaku dan kebiasaan. Ciri-ciri mahasisa yang mengalami academic burnout adalah:

  1. Kelelahan emosional. Merasa kehabisan energi emosional, tidak ada motivasi, dan sering merasa putus asa terkait dengan tugas akademik.
  2. Penurunan kinerja akademik. Mengalami penurunan kualitas atau produktivitas dalam pekerjaan akademik, seperti penurunan nilai, keterlambatan dalam penyelesaian tugas, atau kesulitan berkonsentrasi.
  3. Sering merasa kelelahan meskipun cukup istirahat. 
  4. Kehilangan motivasi. Merasa kehilangan motivasi dan tujuan akademik yang jelas, meragukan nilai dan relevansi pendidikan, serta merasa tidak termotivasi untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan akademik.
  5. Perasaan tidak efektif/tidak percaya diri.  Merasa bahwa upaya yang dilakukan tidak menghasilkan hasil yang memadai, merasa tidak kompeten, dan meragukan kemampuan akademik sendiri.
  6. Perubahan emosi. Mengalami perubahan suasana hati yang sering, seperti mudah marah, frustrasi, cemas, atau depresi.

Sebagai seorang mahasiswa, penting untuk mengatasi academic burnout agar kehidupan perkuliahan dapat dijalani degan lebih bermakna. Beberapa tips untuk mengatasi academic burnout adalah:

  1. Membuat jadwal yang seimbang. Buat jadwal yang masuk akal untuk mengatur waktu belajar, istirahat, dan aktivitas lainnya. Pastikan Anda memberikan waktu yang cukup untuk istirahat dan hobi di antara sesi belajar.
  2. Pecah tugas menjadi bagian yang lebih kecil. Tugas dan proyek yang besar seringkali dapat menimbulkan tekanan dan kecemasan. Pecah tugas besar menjadi tugas yang lebih kecil dan lebih terkelola untuk membuatnya terasa lebih mudah dan terjangkau.
  3. Tetapkan batasan. Jangan membebani diri Anda dengan terlalu banyak tanggung jawab akademik. Pelajari untuk mengatakan “tidak” ketika Anda sudah melebihi kapasitas Anda.
  4. Carilah dukungan sosial. Bicaralah dengan teman, keluarga, atau teman sekelas tentang apa yang Anda alami. Mereka mungkin memiliki saran yang berguna atau hanya dapat memberikan pendengaran dan dukungan.
  5. Jaga kesehatan fisik. Pastikan Anda mendapatkan istirahat yang cukup, makan makanan bergizi, dan berolahraga secara teratur. Kesehatan fisik yang baik dapat membantu mengurangi tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.
  6. Luangkan waktu untuk relaksasi. Temukan aktivitas yang membantu Anda bersantai dan meredakan stres, seperti meditasi, yoga, atau mendengarkan musik. Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda nikmati secara pribadi.
  7. Beristirahat dengan cukup. Pastikan Anda mendapatkan tidur yang cukup setiap malam. Tidur yang baik dapat memulihkan energi dan membantu meningkatkan konsentrasi dan produktivitas.
  8. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Jika perasaan burnout terus berlanjut atau memburuk, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari konselor atau profesional kesehatan mental. Mereka dapat memberikan saran yang lebih khusus dan strategi yang sesuai untuk mengatasi burnout akademik.

 

Sumber:

  1. Cambridge Dictionary. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/burnout
  2. Asikainen, H., Salmela-Aro, K., Parpala, A., & Katajavuori, N. (2020). Learning profiles and their relation to study-related burnout and academic achievement among university students. Learning and Individual Differences, 78, 101781.
  3. Psikologi UGM, LM. 20121. LAPORAN HASIL RISET MANDIRI “Tingkat Academic Burnout Mahasiswa Klaster Sosio-Humaniora UGM: Meningkatkan Kesadaran akan Urgensi Fenomena Academic Burnout”. https://lm.psikologi.ugm.ac.id/2021/12/laporan-hasil-riset-mandiri-tingkat-academic-burnout-mahasiswa-klaster-sosio-humaniora-ugm-meningkatkan-kesadaran-akan-urgensi-fenomena-academic-burnout/
  4. Bianchi, R., Schonfeld, I. S., & Laurent, E. (2015). Burnout–depression overlap: A review. Clinical Psychology Review, 36, 28-41.