Difteri adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas. Penyakit ini dominan menyerang anak-anak dan bagian tubuh yang terserang biasanya adalah tonsil, faring, hingga laring. Ciri khusus pada difteri adalah terbentuknya lapisan yang khas selaput lendir pada saluran napas, serta adanya kerusakan otot jantung dan saraf (Andareto, 2015). Penyakit ini tergolong penyakit menular yang akut dan spesifik. Di negara maju hampir tidak pernah dijumpai kasus ini karena vaksinasi prevantif dilakukan dengan baik. Di Indonesia meskipun program imunisasi telah berjalan, kasus difteri masih ditemukan.

Difteri disebabkan oleh bakteri gram positif Corynebacterium diphteriae. Bakteri bersifat basil, membentuk pseudomembran yang sukar diangkat, mudah berdarah, dan berwarna putih kelabu yang meliputi daerah yang terserang dan eksotoksin, yang sangat ganas dan dapat meracuni jaringan terutama pada otot jantung, ginjal, dan syaraf. Bakteri tersebut mati pada suhu 60°C selama 10 menit (Suryanah, 1996).

Difteri dapat menular melalui kontak langsung maupun tidak langsung (Andareto, 2015). Air ludah yang berterbangan saat penderita berbicara, batuk atau bersin membawa bakteri, melalui pernapasan bakteri masuk ke dalam tubuh orang disekitarnya, maka terjadilah penularan penyakit difteri dari seorang penderita kepada orang disekitarnya. Difteri juga dapat menular melalui benda-benda atau makanan yang terkontaminasi dan sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita yang umumya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Berdasarkan cara penularan, penularan difteri di daerah padat penduduk dimungkinkan lebih tinggi karena kontak antar perseorang terjadi lebih banyak daripada daerah yang jarang penduduknya. Daerah perkotaan padat penduduk intensitas seseorang bertemu dengan banyak orang lebih tinggi daripada di persedaan, yang kontaknya dengan sedikit orang dan dengan orang yang sama. Menurut peta persebaran KLB (Kondisi Luar Biasa) Difteri Minggu ke 44 November 2017 oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan kasus difteri banyak terjadi di provinsi padat penduduk seperti Provinsi Jawa Timur, Banten, Jawa Barat, NAD, dan Sumatera Barat. Kasus difteri masih terjadi di 23 Provinsi di Indonesia menunjukkan masih rendahnya imunisasi difteri.

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari, namun mungkin juga baru muncul 10 hari kemudian (Andareto, 2015). Gejala yang muncul diantaranya:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam, suhu tubuh meningkat sampai 38,9°C
  • Batuk dan pilek yang ringan. Pilek awalnya cair, kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah
  • Sakit dan pembengkakan pada tenggorokan Mual, muntah, sakit kepala
  • Kaku leher
  • Sakit ketika menelan
  • Keluar cairan dari hidung
  • Kesulitan bernapas dan napas cepat Lemas dan lelah
  • Malaise

Pada tahap lanjut penyakit difteri dapat menyebabkan henti napas, radang pada otot jantung dengan gagal jantung atau aritmia, kelumpuhan syaraf sehingga hampir setiap satu dari sepuluh orang yang menderita penyakit difteri akan meninggal karenanya (Andareto, 2015).

Pengobatan difteri tidak bisa dilaksanakan sendiri di rumah, segeralah di rawat di rumah sakit. Difteri sangat menular sehingga penderita perlu diisolasi. Istirahat total di tempat tidur mutlak diperlukan untuk mencegah timbulnya komplikasi yang lebih parah. Fisioterapi sangat diperlukan untuk penderita yang sarafnya mengalami gangguan sehingga megnakibatkan kelumpuhan. Tindakan trakeotomi diperlukan bagi penderita yang tersumbat jalan napasnya, dengan membuat lubang pada tenggorokan.

Difteri dapat dicegah dengan imunisasi. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis atau batuk rejan). Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal (Anonim, 2017).

Apabila imunisasi DTP terlambat diberikan, imunisasi kejaran yang diberikan tidak akan mengulang dari awal. Bagi anak di bawah usia 7 tahun yang belum melakukan imunisasi DTP atau melakukan imunisasi yang tidak lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak Anda. Namun bagi mereka yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan. Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.

 

Penulis: Nur Ulfah Agustin (DD 32)

Sumber:

Anonim. 2017. Pengertian Difteri. Diakses pada 24 Desember 2017 dari http://www.alodokter.com/difteri

Suryanah. 1996. Keperawatan Anak untuk Siswa SPK. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Andareto, Obi. 2015. Penyakit Menular di Sekitar Anda (Begitu Mudah Menular dan Berbahaya, Kenali, Hindari, dan Jauhi Jangan Sampai Tertular). Jakarta: Pustaka Ilmu Semesta